Langsung ke konten utama

Model Pengembangan Senam Pencak Silat Berbasis Tendangan

MODEL SENAM PENCAK SILAT BERBASIS TENDANGAN PADA ANAK USIA SMP (Sekolah Menegah Pertama)

 CAZANOVA
(ivan.cazanova89@gmail.com)

Abstrak
                           
Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah untuk menghasilkan model senam pencak silat berbasis tendangan pada usia SMP. Selain itu, penelitian dan pengembangan ini dilakukan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang: pengembangan dan penerapan model senam pencak silat dan mengetahui efektivitas, efisiensi dan daya tarik anak terhadap model yang dibuat. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan metode penelitian  pengembangan Research & Development (R & D) dari Borg and Gall. Subyek dalam penelitian dan pengembangan ini adalah siswa-siswi Sekolah yang terdiri dari 40 anak SMP.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini adalah wawancara dan instrumen tes senam pencak silat yang digunakan untuk mengumpulkan data senam pencak silat berbasis tendangan pada anak usia SMP, adapun tahapan dalam penelitian dan pengembangan ini adalah, pada tahap: (1) analisis kebutuhan, (2) evaluasi ahli (evaluasi produk awal); (3) ujicoba terbatas (ujicoba kelompok kecil); dan (4) ujicoba utama (field testing). Uji efektifitas model mengunakan tes kesegaran jasmani Indonesia sebelum pemberian treatmen berupa model senam pencak silat yang dikembangkan untuk mengetahui tingkat kemampuan olahraga pencak silat setelah perlakuan atau treatmen model senam pencak silat yang dikembangkan, dari tes tersebut terdapat hasil 12.50 dan setelah diberikan perlakuan dengan model 16.08 artinya bahwa nilai rata-rata kebugaran jasmani adanya peningkatan. uji signifikansi perbedaan dengan SPSS 16 didapat hasil t-hitung = 13.861, mean = 3.575 df = 39 dan p-value = 0.00 < 0.05 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan kebugaran jasmani sebelum dan sesudah adanya perlakuan model senam pencak silat berbasis tendangan pada anak usia SMP
Berdasarkan hasil pengembangan dapat disimpulkan bahwa: (1) Dengan model senam pencak silat dapat dikembangkan dan diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani serta meningkatkan  olahraga pencak silat khususnya senam pencak silat untuk usia SMP (2) Dengan model senam pencak silat ini yang telah dikembangkan, diperoleh data efektifitas dan hasil pengembangan model senam pencak silat untuk usia SMP.

Kata kunci: Pengembangan, Model Senam Pencak Silat Berbasis Tendangan.



Pendahuluan
Pegembangan model pada dasarnya merupakan serang kaian proses penelitian berkelanjutan dari model sebelumnya, evaluasi model yang digunakan, atlet dan fondasi keilmuannya. Dalam pengembangan model waktu yang diperlukan memang panjang, namun hal tersebut seimbang dengan apa hasil yang kita dapatkan. Hal ini dikarenakan model yang kita kerjakan dapat selalu dievaluasi dan dimodivikasi secara kontinu agar kita mendapatkan respon keilmuan yang baru, perkembangan siswa dan kemajuan siswa dalam menerima pembelajaran.
 Kesegaran jasmani meru pakan suatu usaha meng-upayakan kesehatan yang bertu-juan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kebugaran jas-mani masyarakat termasuk anak sekolah melalui aktifitas fisik. Menurut direktorat bina kesehatan kerja dan olahraga (2013:2), kesegaran jasmani mempunyai arti penting bagi anak usia sekolah, melalui antara lain dapat meningkatkan fungsi organ tubuh, sosial emosional sportivitas dan sema-ngat kompotensi, serta mend-ukung prestasi belajar. Adapun yang dikemukan oleh Widiastuti (2015;13), pentingnya kesegaran jasmani bagi anak usia sekolah antara lain dapat meningkatkan kemampuan organ tubuh, social, emosional, sportivitas dan semangat kompetisi. Beberapa penelitian juga menyebutkan kesegaran jasmani memiliki korelasi positif dengan prestasi akademis. Dari sudut pandang pendidikan upaya peningkatan kesegaran jasmani memiliki tujuan antara lain,
(1) pembentukan gerak,
(2) pembentukan prestasi,
(3) pembentukan social,
(4) pertumbuhan badan.
Adapun yang di kemukakan oleh Angela Lumpkin (2002:6), Physical education is defined as e process through which an individual obtains optimal physical, mental, sosial, and fitness skills through physical activ-ity. Artinya pendidikan jasmani didefinisikan sebagai proses dimana seorang induvidu mengoptimalkan kemampuan fisik, mental, sosial, dan kebugaran melalui keterampilan segar fisik. Akhirnya kesehatan merupakan keadaan fisik, mental, dan kesejateraan sosial bukan hanya tidak adanya penyakit dalam tubuh seseorang ketiga komponen tersebut saling berinteraksi sehingga disebut apa yang dilakukan dalam gerakan adalah sebuah kesegaran.
Pendidikan jasmani merupakan bagian yang penting dari proses pendidikan. Artinya pendidikan jasmani bukan hanya dekorasi atau ornamen yang ditempel pada program sekolah sebagai alat sekolah membuat anak sibuk. Pendidikan jasmani mengarahkan anak untuk melakukan pengembangan keterampilan yang berguna bagi pengisian waktu yang senggang, terlibat aktivitas yang kondusif untuk mengembangkan hidup sehat, berkembang secara sosial, dan menyumbang pada kesehatan fisik dan mentalnya. Jadi, pendidikan jasmani diartikankan sebagai proses pendidikan melalui aktivitas jasmani atau olahraga. Proses dari suatu pembelajaran merupakan suatu dasar dari peningkatan efektifitas jasmani. Oleh karena itu kita harus terlebih dahulu mengerti dan memahami arti dari pembelajaran.
Menurut Hopper, Grey, dan Trish, (2005:4-5) Pendidikan jasmani terbagi menjadi 2 (dua) yaitu:
Children develop physical skills, begin to link them to form short sequences or series of movements and learn to make simple judgements about their performance. They build on their own creativity and enthusiasm for physical activity using indoor and outdoor environments. Children work alone, learn to cooperate and work with a partner. They become aware of the changes that occur to their bodies as they exercise and recognise the short term effects.
Children develop their skills and become increasingly able to plan, perform and evaluate what they do. Children work co-operatively and competitively in a range of physical activities involving creative tasks, problem solving and decision making. They practise movements and sequences to improve and refine their performance and make judgements about their own and others’ work. They sustain energetic activity over appropriate periods of time and understand the short-term effects of exercise..
Pendidikan jasmani ber- tujuan untuk memungkinkan siwa melakukan hal-hal berikut, siswa memiliki inisiatif dan meng- embangkan ide-ide dengan cara yang kreatif, siswa memilki pengetahuan dan pengalaman tentang kesehatan dan kesegaran jasmani, siswa mampu menahan diri dari prilaku anti social dan mampu mengembangkan rasa percaya diri. Pendidikan jasmani mengembangkan keterampilan tubuh anak, keterampilan berfikir, ketekunan sehingga menjadikan anak memilki siakap yang positif erhadap pembelajaran. Melalui pendidikan jasmani anak-anak menyadari berbagai potensi kemampuan tubuh mereka dan membuat penilaian terhadap kemampuan untuk kemajuan diri mereka sendiri.
Thomas Wood stated that "the great thought of physical education is not the education of the physical nature, but the relation of physical training to complete education, and then the effort to the make the physical Contribute its fullshare to the life of the individual."
Thomas Wood menya takan,(2008:2) bahwa "pemikiran besar pendidikan jasmani tidak bersifat aspek fisik saja, tetapi hubungan pelatihan fisik untuk pendidikan yang lengkap, dan kemudian upaya untuk kehidupan individu.
Jadi dapat disimpulkan pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan adalah proses pembelajaran memalui pendi-dikan jasmani melalui kativitas jasmani sebagai bagian intergral dari pendidikan keseluruhan yang bertujuan mengembangkan induvidu secara organik, neuromuskuler, intelektual, dan emosional serta untuk mencapi tujuan pendidikan. Sehingga melalui pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan diharapkan siswa dapat memperoleh berbagai peng-alaman untuk mengungkapkan kesan pribadi yang menyenangkan, kreatif, inovatif, terampil, meningkatkan kesegaran jasmani, dan memelihara pola hidup sehat serta pemahaman terhadap gerak manusia. Maka dalam pendidikan kesegaran jasmani, olahraga, dan kesehatan dapat mengem bangkan keterampilan gerak, khususnya senam pencak silat berbasis tendangan melalui beberapa model pengembangan pembelajaran senam pencak silat berbasis tendagan.
Menurut erwin (2015:13) Pecak silat merupakan system bela diri yang diwarisi oleh nenek moyang sebagai budaya bangsa Indonesia sehingga perlu dilestarikan, dibina, dan di kembangkan. Adapun yang dikatakan Nur Dyah (2008:2) pencak silat dikenal sebagai seni bela diri (the arts of self defense) warisan leluhur budaya serumpun melayu yang mengandung empat aspek utama yaitu: aspek pembinaan mental dan spiritual, aspek kemahiran ilmu bela diri, aspek seni dan budaya, dan aspek olahraga. Keseluruhan aspek tersebut terpadu dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainya, menjadi satu dalam diri seorang pesilat. Para pendekar dan pakar pencak silat meyakini bahwa masyarakat Melayu menciptakan dan menggunakan ilmu bela diri ini sejak jaman prasejarah, karena pada masa itu manusia harus menghadapi alam yang keras untuk tujuan bertahan hidup dengan melawan binatang buas.
Ketut Sudana (2009:19) mengemukankan (Seni pencak silat mempunyai arti seni, pencak dan silat. Seni berarti bergerak memakai pola langkah dengan diiringi musik  tradisional dari pencak silat, yang berasal dari daerah itu sendiri. Pencak silat pada dasarnya adalah pembelaan diri insani Indonesia untuk menghindari diri dari segala malapetaka. Pencak silat merupakan sistem yang terdiri atas sikap (posisi) dan gerak-gerik (pergerakan). Ketika seorang pesilat bergerak saat bertarung, sikap dan gerakannya berubah mengikuti perubahan posisi lawan secara berkelanjutan. Segera setelah menemukan kelemahan pertahanan lawan, pesilat akan mencoba mengalahkan lawan dengan suatu serangan yang cepat. Menurut Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia  (PB IPSI), (2008:21) mendefinisikan bahwa pencak silat adalah hasil budidaya manusia Indonesia untuk membela atau mempertahankan eksistensi (kemandirian) dan integritas (manunggal) terhadap lingkungan hidup/alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup guna meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pencak berarti bergerak, melonjak dengan menggunakan pola langkah ataupun kuncian dengan memancak. Silat berarti menjalin hubungan dengan sang pencipta Tuhan Yang Maha Esa khususnya. Dikemukakan oleh Ferry Lesmana, (2012:2) seni pencak silat adalah melakukan gerak dengan memakai pola langkah dengan kuncian atau jurus, sehingga membentuk gerakan yang indah untuk membela diri dari musuh yang juga dapat diiringi musik tradisional serta menjalin silahturahmi dengan sesama pesilat khususnya dan masyrakat umumnya.
Pertandingan pencak silat dimainkan sesuai dengan ketentuan katagori yang diatur dalam peraturan pertandingan dan dipimpin oleh pelaksana teknis pertandingan yang sah. Adapun kategori pertandingan pencak silat terdiri atas:
1.    Kategori Tanding
Kategori tanding adalah kategori pertandingan pencak silat yang menampilkan 2 (dua) orang pesilat dari kubu yang berbeda. Keduanya saling berhadapan menggunakan unsur pembelaan dan serangan yaitu menangkis /mengelak/ mengena/ menyerang pada sasaran dan menjatuhkan lawan, pengguanaan taktik dan teknik bertanding, ketahanan stamina, dan semangat juang, menggunakan kaidah dan pola langkah yang memanfaatkan kekayaan teknik jurus untuk mendapatkan nilai terbanyak.
2.    Kategori Tunggal
Kategori tunggal adalah kategori pertandingan pencak silat yang menampilkan seorang pesilat memperagakan kema hirannya dalam jurus tunggal secara benar, tepat dan mantap, penuh penjiawaan dengan tangan kosong dan bersenjata.
3.    Kategori Ganda
Kategori ganda adalah kategori pertandingan pencak silat yang menampilkan dua orang pesilat dari kubu yang sama memperagakan kemahiran dan kekayaan teknik jurus serang bela pencak silat yang dimiliki. Gerakan serang bela ditampilkan secara terencana, efektif, estetis, mantap, dan logis dalam sejumlah rangkaian seri yang teratur, baik bertenaga dan cepat maupun dalam gerakan lambat penuh penjiwaan dengan tangan kosong dan bersenjata.
4.    Kategori Regu
Kategori regu adalah kategori pertandingan pecak silat yang menampilkan tiga orang pesilat dari kubu yang sama memperagakan kemahirannya dalam jurus baku regu secara benar, tepat, mantap, penuh penjiwaan dan kompak dengan tangan kosong.
Tendangan Lurus
Tendangan lurus , adalah serangan yang menggunakan sebelah kaki dan tungkai, lintasanya ke arah depan dengan posisi badan menghadap ke depan, dengan kenaannya pangkal jari-jari kaki bagian dalam, dengan sasaran ulu hati dan dagu.

Gambar 2.5. Tendangan Lurus
Sumber: Dokumentasi Pribadi
a.    Tendangan Sabit
Tendangan sabit adalah tendangan yang lintasanya setengah lingkaran ke dalam, dengan sasaran seluruh bagian tubuh, dengan punggung telapak kaki atau jari telapak kaki.




Gambar 2.6. Tendangan Sabit
Sumber: Dokumentasi Pribadi

b.     Tendangan T
Tendangan T adalah serangan yang menggunakan sebelah kaki dan tungkai, lintasanya lurus ke depan dan kenaannya pada tumit, telapak kaki dan sisi luar kaki, posisi lurus, biasanya digunakan untuk serangan samping, dengan sasaran seluruh bagian tubuh.



Gambar 2.7. Tendangan T
Sumber: Dokumentasi Pribadi

c.    Tendangan Belakang
Tendangan belakang, yakni tendangan sebelah kaki dan tungkai dengan lintasan lurus ke belakang tubuh (membelakangi lawan), dengan sasaran seluruh bagian tubuh.



    Gambar 2.8. Tendangan Belakang
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Menurut Nur Dyah, (2008:12), pencak silat di Indonesia banyak sekali ragamnya, masing-masing daerah mempunyai ciri khas sendiri. Namun, pada dasarya mereka mempunyai kesamaan, yaitu: 

1.    Gerakanya halus, lemah dan teratur
2.    Tidak banyak membutuhkan banyak ruang
3.    Lebih mengutamakan menge lak, memindahkan arah serangan dan mengunci lawan
4.    Posisi tangan selalu dekat badan
5.    Lebih memanfaatkan tenaga lawan
6.    Gerakan dan tendangan kaki tidak teralu tinggi
Dalam berlatih pencak silat terdapat beberapa tahapan untuk menguasai gerakan-gerakan atau jurus-jurus tingkat tinggi. Untuk itu murid silat atau pesilat ini dibagi menjadi beberapa tahap atau tigkat kemahiran, yaitu:

1.    Pemula, pada tingkatan yang pertama ini pesiklat berlatih tahap dasar seperti kuda-kuda, teknik tendangan, pukulan, tangkisan, elakan, tangkapan, bantingan, olah tubuh, maupun rangkaian jurus dasar perguruan dan jurus standar yang dikeluarkan oleh IPSI.
2.    Menengah, ditingkat ini pesilat akan lebih difokuskan untuk mempelajari semua gerakan dasar, pemahaman dan variaasi. Pada tingkat menengah ini akan mulai terlihat minat dan bakat pesilat, kemudian akan disalurkan kepada masing-masing cabang, misalnya olahraga dan seni budaya.
3.    Pelatih, hasil dari kemampuan yang matang berdasarkan pengalaman di tahap pemula dan menengah akan membuat pesilat melangkah ke tahap selanjutnya, dimana mereka akan diberikan teknik-teknik beladiri perguruan, dimana teknik ini hanya duberikan kepada orang yang memang dipercayai dan mampu secara teknik dan moral, karena biasanya teknik beladiri merupakan teknik tempur yang sangat effektif melumpuhkan lawan atau mematikan.
4.   Pendekar, merupakan pesilat yang telah diakui oleh para ssesepuh perguruan, mereka akan mewariskan ilmu-ilmu rahasia tingkat tinggi. 

Senam
Menurut Strio Ahmad, (2007:1), senam merupakan salah satu cabang olahraga yang melibatkan gerakan tubuh yang membutuhkan kekuatan, kece- patan, dan keserasian gerakan fisik. Senam adalah olahraga yang bisa dilakukan dilakukan oleh siapa saja, siapapun, dari anak kecil sampai orang dewasa, senam juga dapat dilakukan dimanapun seperti disekolah, dirumah, maupun ditempat fitnes. Olahraga senam dapat mendidik siswa agar mencintai kesehatan. Selain itu, senam juga dapat dilakukan merelaksasi (ketenangan fikiran), untuk kelenturan tubuh, kesegaran, dan kebugaran tubuh yang sangat penting bagi keberlansungan hidup seseorang.
Adapun yang dikemukan oleh Biasboro senam merupakan olahraga yang murah, meria, massal, menarikdan bermanfaat. Seperti halnya dengan senam erobik, senam kesegaran jasmani, senam cha-cha dan masih banyak senam irama yang lainya. Senam jenis ini sangat pesat berkembang di Indonesia. Organisasi yang mengelolapun sangat beragam, mulai dari sanggar senam, perkumpulan senam, rumah sakit jantung Indonesia, pesatuan wanita olahraga seluruh Indonesia (PERWASI), dan masih banyak yang lainjenis olahraga senam sangat mudah digemari sepeti senam kebugaran jasmani, senam bugar Indonesia, jenis senam seperti ini telah dikembangkan dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada sekarang.
Sedangkan menurut Sapto Madijino,(2009:23), senam dasar adalah suatu bentuk latihan jasmani yang sistematis, teratur, dan terencana dengan melakukan gerakan-gerakan spesifik untuk memperoleh guna dan bermanfaat untuk tubuh. Menurut Jhon and Mery,(2008:6) senam begitu banyak pengarug bagi induvidu bila dia datang berolahraga dengan sikap dan respek yang baik. Senam dapat menyenangkan, menggairahkan memberikan banyak pesona, anda akan merasa yakin dengan diri sendiri dan bangga dengan prestasi yang dapat anda capai.
Dari uraian diatas maka senam adalah kegiatan olahraga yang dapat menigkatkan kesegaran jasmani serta memberikan kebugaran untuk para siswa dan orang tua, maka dari itu dengan model pembelajaran senam pencak silat berbasis tendangan kita akan lakukan pembelajaran dengan mengunakan serangkaian pembelajaran melalui pencak silat yang dikembangkan mengunakan senam silat.

Metode  
Pendekatan yang dipergu-nakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan kuanti-tatif, yang merupakan pendekatan untuk menemukan jawaban dari masalah melalui rumusan ma-salah yang telah dirumuskan dalam bab I yaitu, senam pencak silat berbasis tendangan pada anak usia SMP. Hasil akhir penelitian pengembangan ini adalah model senam pencak silat berbasis tendangan pada anak usia sekolah menengah pertama ini akan menghasilkan produk berupa metode pembelajaran  yang lengkap dengan spesifikasi produknya sekaligus menguji keefektifan dari model pem-belajaran yang di buat yang dibuat, sehingga dapat mening-katkan motivasi belajar siswa dan dapat juga digunakan sebagai pegangan guru untuk meningkat-kan pembelajaran olahraga pencak silatl. Penelitian dan peng-embangan dalam pembelajaran ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuan titatif serta menggunakan model pengem-bangan Research & Develo-pment (R &D) dari Borg dan Gall yang terdiri dari sepuluh langkah.
Bahwa ada 13 bentuk model senam pencak silat yang telah dikembangkan, Berdasarkan uji ahli yang dilakukan tentang model pembelajaran senam pencak silat pada usia SMP dapat ditarik kesimpulan sebagai be-rikut:
(1) Berdasarkan uji ahli yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa variasi model 2 dan 12 me rupakan model pembelajaran yang tidak layak dan dilakukan revisi tapi tetap digunakan untuk tahap selanjutnya diberikan pada siswa SMP. (2) Untuk variasi model pembelajaran 13 dilihat memiliki tingkat kesulitan yang sedang sehingga dapat me-mudahkan siswa dalam mela-kukan gerakan.

Hasil
Tahap uji coba kelompok kecil pada siswa SMP yang berjumlah 15 orang. Model pembelajaran senam pencak silat untuk usia SMP yang peneliti buat setelah dievaluasi ahli, kemudian mengalami revisi tahap I. Data yang diperoleh digunakan sebagai landasan dalam melakukan revisi pada tahap pertama selanjutnya yaitu ujicoba tahap II. Berdasarkan evaluasi uji coba kelompok kecil yang di lakukan oleh peneliti  dapat di simpulkan sebagai berikut: (1) Pada dasarnya semua variasi dapat diterapkan, akan tetapi harus disesuaikan dari tingkatan yang mudah ke yang sulit agar kemampuan anak dapat meningkat. (2) Pada saat me-lakukan uji coba kelompok kecil bahwa dari semua model harus diurut dari yang mudah ke tingkat yang lebih sulit.
Setelah hasil pengembangan produk model senam pencak silat pada usia SMP diujicobakan dalam jumlah kecil dan telah direvisi, maka tahap selanjutnya adalah melakukan ujicoba kelompok besar. Berdasarkan hasil uji coba terbatas (ujicoba kelompok kecil) yang telah dievaluasi oleh para ahli, kemudian peneliti melakukan revisi produk awal dan memperoleh 13 model senam pencak silat yang akan digunakan dalam ujicoba kelompok besar.  Langkah selanjutnya setelah model mengalami revisi tahap II dari ahli maka dilanjutkan dengan menguji cobakan produk kepada kelompok besar dengan mengg unakan subyek penelitian sebanyak 40 orang siswa.
Data pada tabel di atas adalah hasil Pre Test dan hasil Post Test yang diperoleh uji coba kelompok besar yang sebelumnya dilakukan Pre Test atau tes awal dan Post Test yang dilakukan pada siswa, sebelum penerapan model-model yang di terapkan kepada siswa. Peneliti melakukan tes awal untuk mengetahui hasil pembelajaran menggiring bola yang dimiliki oleh subjek yang akan diteliti, setelah treatmen diberikan maka subjek di tes lagi dengan tes yang sama dengan tes sebelumnya tes ini dinamakan post test yang digunakan untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan hasil pembelajaran senam pencak silat setelah pemberian treatmen berupa mode-model senam pencak silat. Untuk menghi dengan analisis perbedaan dua rerata untuk sampel seperti pendapat pada Kadir (2010: 198) tentang sampel tak bebas adalah sampel yang keberadaannya saling mempengaruhi (berkorela-si). Dalam perhitungan mengg-unakan SPSS 16 dengan analisis paired sample t-test.

Nilai Rata-rata 
Tabel Nilai Rata-rata
Tabel 4.5 Nilai Rata-rata
Paired Samples Statistics

Mean
N
Std. Deviation
Std. Error Mean

Pretest
12.50
40
1.485
.235

Posttest
16.08
40
1.403
.222








 Berdasarkan hasil bahwa nilai rata-rata hasil pembelajaran menggiring bola sebelum diberikan model pembelajaran adalah 12.50 dan setelah diberikan perlakuan dengan model pembelajaran 16.08 artinya bahwa nilai rata-rata adanya peningkatan.
Berdasarkan hasil ouput tabel di atas bahwa koefisien korelasi pembelajaran sebelum dan sesudah diberikan model servis bawah adalah p-value 0.00 < 0.05 jadi kesimpulannya singnifikan.


Paired Samples Test




df
Sig.
(2-tailed)
Mean
Deviation
Mean
95% Confidence Interval of the Difference
Lower
Upper
Pair 1
-3.575
1.631
.258
-4.097
-3.053
-13.861
39
.000


Tabel Signifikansi Perbedaan


Dalam uji signifikansi perbedaan dengan SPSS 16 didapat hasil t-hitung = 13.861, df = 39 dan p-value = 0.00 < 0.05 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan kebugaran jasmani sebelum dan sesudah adanya perlakuan model pembelajaran senam pencak silat.
Berdasarkan keterangan tersebut dapat dikatakan bahwa model pembelajaran senam pencak silat berbasis tendangan pda anak usia sekolah menengah pertama yang dikembangakan, efektif dapat meningkatkan pembelajaran senam pencak silat psds usia SMP.
Berikut perbandingan rata-rata dari tingkat senam pencak silat sebelum pemberian treatmen dan sesudah pemberian perlakuan dengan model-model senam pencak silat diagram batang pada gambar berikut ini:

 
Gambar 1  Diagram Batang

Hasil ujicoba kelompok kecil dan ujicoba kelompok besar dapat disimpulkan bahwa model Model senam pencak silat pada usia SMP dapat digunakan dalam proses pembelajaran olahraga pencak silat khususnya senam pencak silat pada usia SMP serta layak dan efektif untuk meningkatkan pembelajaran senam pencak silat.

Pembahasan
Berdasarkan perolehan angka pada tabel di atas dapat disimpulkan bahwa model pem-belajaran senam pencak silat pada usia SMP dapat dan layak untuk digunakan dalam pembelajaran di sekolah serta efektif untuk me-ningkatkan kemampuan olahraga pencak silat pada siswa anak. Terdapat perbandingan angka yang menunjukan hasil dari tes awal dan tes akhir mengalami perkembangan, dari tes awal yang berjumlah 500 kemudian diberikan perlakukan berupa model-model senam pencak silat yang sudah dikembangkan kemudian baru diadakan tes akhir atau post test untuk mengetahui efektivitas model yang dikembangkan dan diperoleh data berjumlah 643 jadi model senam pencak silat efektif untuk pengembangan pembelajaran senam pencak silat pada anak usia SMP. 
Melihat kekurangan dan kelebihan dari produk yang dibuat terdapat masukan yang akan peneliti sampaikan demi ter- capainya penyempurnaan  produk ini, adapun masukannya adalah sebagai berikut:
Dalam model ini perlu adanya penyesuaian gerakan terhadap siswa yang belajar dengan model menggiring bola futsal. Penggu- naan peralatan yang lebih banyak dan memperhatikan kenyamanan serta keamanan dapat membuat anak lebih maksimal dalam me-lakukan model-model senam pencak silat yang di berikan oleh guru. Karakteristik dan pemahaman siswa, meng- haruskan guru memberikan praktik langsung kepada siswa untuk mempelajari gerak-gerak yang dirasakan baru untuk dilakukan.
Model senam pencak silat yang di buat oleh peneliti merupakan produk yang bertujuan untuk membantu guru atau pelatih dalam menyampaikan materi pembelajaran menggiring bola futsal, meningkatkan kemampuan menggiring siswa, dan sebagai referensi bahan pembelajaran. Model pembelajaran senam pencak silat yang dibuat berdasarkan tingkat kebutuhan anak dalam aktvitas pendidikan jasmani khususnya dalam kegiatan belajar mengajar pencak silat pada anak usia SMP.
Produk ini setelah dikaji  mengenai beberapa kelemahan yang perlu pembenahan, maka dapat disampaikan beberapa keunggul an produk ini antara lain:
1.    Meningkatkan keterampilan me
nggiring bola futsal siswa.
2. Model ini dapat menjadikan siswa lebih aktif, dan antusias dalam latihan dan belajar olahraga pencak silat.
3. Siswa dapat merasakan kenyamanan dan keamanan dalam proses pembelajaran pencak silat di sekolah.
4. Model senam pencak silat berbasis tendangan lebih efektif dan efisien. p
5. Dapat membantu guru/pelatih dalam proses pembelajaran di sekolah.
6.Sebagai referensi pembelajaran di sekolah.
7. Sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya pendi- dikan jasmani di sekolah.
8. Model senam pencak silat berbasis tendangan ini dilakukan secara sistematis dari hal yang mudah ke yang sulit.
9. Siswa juga dituntut untuk berpikir secara cepat, tepat.
10. Model yang digunakan sangat bervariatif yang dapat meningkatkan tingkat antusias siswa dalam pembelajaran. Penelitian pengembangan ini telah diupayakan secara maksimal sesuai dengan kemampuan dari peneliti, namun dalam penelitian ini masih terdapat beberapa keterbatasan yang harus diakui dan dikemukakan sebagai bahan pertimbangan dalam meng- generalisir hasil dari penelitian yang dicapai. Adapun keterbatasan-keterbatasan tersebut antara lain sebagai berikut:

1Uji coba lapangan penelitian ini
akan lebih baik lagi apabila dilakukan pada lingkup yang lebih luas lagi
2. Produk yang di-gunakan masih jauh dari sempurna.
3. Sarana dan prasaran yang digunakan masih terbatas.
4. Penjelasan serta peraturan dalam model senam pencak silat yang masih jauh dari kata sempurna.


Daftar Pustaka

Borg. W.R & Gall. M.D. Educational Research An Introduction. New York: Longman, 1983.
Kemendikbud, Olahraga Indonesia Dalam Presfektif Sejarah (Jakarta: 2004) h.5

Angela Lumpkin, Physical Education Exercise Science and Sprot Studies, (USA University Of Kansas, 2002) hal. 6

Widiastuti, Tes Pengukuran Olahraga, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2015) hal. 13

Beb Hopper, Jenny Grey and Trish Maude, Teaching Physical Education in the Primary School, (USA: Routledge Falmer Taylor and Prancis Grup, 2005) hal. 4-5

Adang Suherman, Dasar – Dasar Pendidikan jasmani, (Jakarta: Depdikbud Dirjen Pendidikan, Dasar dan Menengah, 2000), h. 1

Samsudin, Kurikulum Pendidikan Jasmani Olahraga, dan Kesehatan (Jakarta: PPs UNJ, 2011), h. 66

Sharon A. Wynne, FTCE Physical Education K-12, (Boston: XAMonline, 2008) hal. 2

Erwin Setyo Kriswanto, Sejarah dan Perkembangan Pencak Silat Teknik-Teknik Pencak silat Pengetahuan Dasar Pertandingan Pencak Silat, (Yogjakarta: Pustaka Baru , 2015) hal. 13

Ketut Sudiana. Pedoman Perkuliahan Dasar-Dasar Pencak Silat dan Peraturan Wasit Juri, (Singaraja: Jurusan Ilmu Keolahragaan FOK Undiksha, 2009), h. 19.

Rachman Hisbullah, Sejarah dan Perkembangan Pencak Silat di Indonesia.(Jakarta, Pengurus Besar IPSI Padepokan Pencak Silat Indonesia: 2008), h. 21.

Ferry Lesmana, Panduan Pencak Silat (Yogyakarta, Zanafa Publishing: 2012) h. 2.

Johansyah Lubis dan Hendro Wardoyo, Pencak Silat Edisi Kedua (Jakarta, Raja Grafindo: 2014) h. 17.

Nur Dyah Naharsari, Olahraga Pencak Silat, (Jakarta: Ganeca Exact, 2008), h.2

Erwin Setyo Kriswanto, Sejarah dan Perkembangan Pencak Silat Teknik-Teknik Pencak silat Pengetahuan Dasar  Pertan- dingan Pencak Silat, (Yogjakarta: Pustaka Baru , 2015) hal. 13

Satrio Ahmad Y, Senam (Jakarta: Indah Jaya Adiprtama. 2007) hal.1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

      DAFTAR RIWAYAT HIDUP Curriculum Vitae 1. Nama                                                  Cazanova, M. Pd 2. Tempat dan Tanggal Lahir                  Pontianak, 10 Desember 1989 3. Jenis Kelamin                                    Laki - Laki 4. Agama                                 ...

Tentang Penulis

Cazanova adalah anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Ajon Kennedy S dan Ibu Nur’aini, lahir pada tanggal 10 desember 1989 di Pontianak Provinsi Kalimantan Barat. Jenjang sekolah dasar ditempuh di SD Negeri 68 Kota Pontianak tahun 1996, kemudian setelah lulus tahun 2002 melanjutkan kesekolah SMP Koperasi Kota Pontianak, jenjang SMA di Sekolah Bina Utama Kota Pontianak pada tahun 2005. Setelah lulus SMA penulis melanjutkan studi di IKIP PGRI Kota Pontianak pada tahun 2010 pada fakultas (FPOK) Jurusan Prodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PENJASKESREK). Setelah lulus di tahun 2010 penulis lansung melanjutkan studi di Universitas Negeri Jakarta pada program studi Pendidikan Olahraga (POR) pada tahun 2015. Sejak usia belia penulis memang gemar berolahraga, prestasi yang pernah diraih yaitu sebagai juara I pekan olahraga daerah Provinsi Kalimantan barat cabang olahraga pencak silat, juara I pekan olahraga Nasional wilayah II (POPOWIL)cabang olahraga p...